Jumat, 14 April 2023

Pasca Baca: Menambah Keimanan dengan Menangkap Ikan-ikan dari Laut Merah

Dalam dunia sastra, ada satu keyakinan bahwa ketika seseorang membaca, menonton, menikmati atau apapun itu dengan karya sastra, dia sedang menjalani laku katarsis. Menurut yang punya teori, katarsis mempunyai arti penyucian diri yang membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan. Kelegaan emosional itu terjadi setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis yang ada dalam suatu karya sastra. Proses penyucian diri seperti itu bagi hamba adalah cara untuk melepaskan diri dari penatnya dunia.

Hamba selalu suka novel-novel realis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita tentang rakyat jelata, kesusahan hidup, dan masalah-masalah duniawi adalah air yang menyucikan. Ia membilas noda noda hitam yang ada pada diri.

Kali ini Danarto menyucikan hamba. Sastrawan yang namanya hamba kenal di ruang-ruang kelas kini hamba temui dalam wujud baris baris tulisannya. Buku yang membasuh jiwa itu berjudul ‘Ikan-ikan dari Laut Merah’. Lewat kumpulan cerpen bersampul merah itulah, ia mengajak hamba menyelami ide-ide Danarto yang konon katanya penuh nilai-nilai sufistik.

Danarto di permulaan cerpen mengajak pembaca untuk mengenali apa itu kematian. Bagi kita yang masih hidup, rasa-rasanya ngeri sekali mendengar kata mati. Kematian bagi orang-orang adalah akhir dari kehidupan. Tapi bagi Danarto, justru kematian adalah cara untuk mengenal diri sendiri dan kuasa Tuhan. Dalam hal mengenal diri sendiri misalnya, jika ada manusia yang merasa suci, ia mungkin tidak pantas jadi malaikat. Sebab orang perlu dicuci dulu di neraka baru bisa mencapai surga. Sedangkan malaikat sendiri tidak pernah mencicipi neraka, apalagi berbuat dosa. Di sini Danarto mengajak pembacanya untuk merenungi sekali lagi nilai seorang manusia di dunia.

Pada sebuah cerpennya yang lain, Danarto pernah berujar,

“Kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. … dalam kematian bernafas lebih lega. Beban berat di hati terpunggah. Penderitaan hidup lenyap. Kematian telah memindahkan kesadaran ke alam lain. Kesedihan adalah penderitaan. Kematian bukan kesedihan. ” (cerpen Jantung Hati, Hlm 17)

Kematian yang membuat takut mereka yang masih hidup diputarbalikkan oleh Danarto sebagai sesuatu yang menyenangkan. Perasaan lega dan tanpa hambatan setelah mati bagi Danarto patut disyukuri sebab hidup di dunia beratnya minta ampun. Seakan-akan Danarto mencoba mengatakan jika hidup setelah kematian itu sejatinya tidak ada beban sama sekali. Oleh sebab itu, seorang manusia harus siap menghadapi kematian dengan tanpa beban.

Danarto mengajak pembacanya untuk percaya kepada kuasa tuhan yang sering menimbulkan tanda tanya dalam hati. Tengoklah cerita sebuah keluarga yang hidup di atas sebuah bukit. Mereka tidak pernah kekurangan apa-apa. Hidup mereka tanpa cobaan sebab mereka berlaku lurus-lurus saja. Mereka menikmati sekali apa-apa yang terjadi dalam kehidupan tanpa pernah bertanya kenapa sebab mereka percaya akan Allah Swt. Alangkah terkejutnya keluarga itu ketika diberi kiriman ikan-ikan yang jatuh dari langit dalam jumlah besar. Keluarga yang tidak pernah mempertanyakan takdir Tuhan ini menerima saja limpahan berkah dari-Nya tanpa mengetahui bahwa di bawah kaki bukit itu suatu kota sedang dijungkirbalikkan.

Membaca karya Danarto juga bisa dianggap sebagai perjalanan spiritual. Kesan tersebut dapat ditangkap lewat cerpen 'O, Yerusalem!' Bercerita soal perjalanan ke kota suci tiga agama samawi. Gereja Nativity, Masjidil Aqsha, dan Qubbat Al-Sakhrah disebutkan secara gamblang dalam cerita. Seakan mengajak pembacanya untuk turut mengalami perjalanan yang ditempuh oleh si tokoh dalam cerita. Imaji pembaca digugah lewat guratan rima ala Danarto dengan apik hingga hamba sendiri merasa kesadaran spiritual meningkat.

Kesadaran spiritual pembaca kemudian akan tergugah ketika sampai di cerpen 'Pohon Zaqqum'. Nama pohon yang tidak asing bagi umat muslim yang mengenalnya lewat kelas-kelas TPQ. Pohon yang di akhir zaman akan menimbulkan kebingungan di antara manusia oleh Danarto diberikan gambaran yang cukup menarik. Pohon Zaqqum yang melahap manusia ini dijaga betul agar dapat diteliti oleh Ilmuwan yang penasaran dengannya. Sedang masyarakat yang cemas dan frustasi melawan para ilmuwan tersebut. Seolah, Danarto ingin menyampaikan kepada pembacanya seperti inilah kondisi umat manusia di akhir zaman. Kebenaran dan kebatilan tidak ada bedanya. Hanya orang-orang terpilih saja yang dapat membedakan itu.

Renik-renik cerita yang ditampilkan oleh Danarto dalam kumpulan cerpennya seolah ingin menunjukkan bahwa terkadang hidup ini adalah sebuah tanda tanya yang panjang. Segala tindak tanduk kita di dunia ini tidak akan ditemui jawabannya karena nilai manusia ada di akhir. Maka dari itu, manusia hanya perlu terus berusaha dan percaya. Bagi hamba, membaca kumpulan cerpan ‘Ikan-Ikan dari Laut Merah’ seperti menambah keimanan kepada yang kuasa lewat karya tulis manusia.

***

Surakarta, 14 April 2023

oleh Sholahuddin Al Ayubi

Senin, 27 Februari 2023

Pasca Pirsa: Short Film “Tenang” (2021)

Pekan ini saya sedang membutuhkan film cengeng. Maka hari ini, saya akhirnya memberanikan diri untuk menonton film pendek berjudul “Tenang”.

Film ini sudah masuk daftar tonton Sholahuddin sejak setahun yang lalu. Terima kasih yang tak terhingga kepada salah satu influencer film di Twitter yang telah membuat daftar film pendek berkualitas yang bisa dinikmati kala senggang. Kegiatan makan bersama YouTube saya akhirnya tetap rutin terlaksana dan film pendek berjudul “Tenang” menjadi pilihan film yang saya tonton hari ini.

Kenapa perlu satu tahun untuk memberanikan diri menonton film pendek ini? Karena saya butuh waktu untuk menguatkan diri. Bagi saya, menonton film adalah cara untuk “mensucikan diri”. Film adalah wahana katarsis terbaik bagi diri saya. Maka dari itu, kadang saya selalu tidak kuat untuk menonton film cengeng setiap hari karena emosi saya tidak stabil.

Seperti judulnya, Film pendek “Tenang” mengambil inspirasi dari lagunya Yura Yunita dengan judul yang sama. Saya sudah mendengar lagunya terlebih dulu ketimbang filmnya dan menurut saya lagu “Tenang” itu cukup oke untuk mensucikan diri juga. Tak disangka, film pendeknya sendiri melebihi itu.

Film ini bercerita soal cara menghadapi kehilangan. Suatu pengalaman yang tidak akan pernah bisa kembali lagi. Suatu momen yang hanya bisa dikenang tanpa tahu pasti bagaimana selanjutnya. Apalagi, film ini berpusar pada sosok sentral dalam keluarga, yakni tentang seorang ayah.

Film berdurasi 7 menit ini minim dialog. Sosok Agus yang diperankan Ringgo Agus Rahman lebih banyak disorot dengan tatapannya yang kosong pasca bermimpi tentang ayahnya. Mimpi tanpa suara yang membuat hari-hari terasa kosong. Ketika sebuah kaset lawas ditemukan, besar harapan bahwa kaset tersebut bisa memberi jawaban mengenai mimpi semalam. Setelah dibersihkan, kaset itu ternyata memberi jawaban. Jawaban sepanjang 10 detik berbunyi, “Bisa, Gus?”

Film ini sederhana. Bagi pemirsa yang menontonya, pasti akan dapat langsung pesannya. Tapi, ketika saya menonton film ini, saya sendiri baru menyadari bahwa terkadang, hubungan ayah dan anak laki-lakinya terkadang berjalan aneh.

Beberapa anak di dunia ini terkadang condong dekat ke salah satu. Bisa dekat ke ibu atau bisa dekat ke ayah. Bahkan sering tidak condong pada keduanya. Tapi kalau boleh beropini, terkadang anak laki-laki jarang ada yang condong kepada ayahnya. Pun kalau dekat ke ayah, hubungan itu seperti love hate relationship.

Seorang laki-laki, di dunia yang mensyaratkan seorang pria tidak boleh lemah, membuat mereka harus kuat setiap hari. Mereka berjuang sendiri dan dengan caranya masing-masing mencoba untuk meninju congkaknya dunia. Termasuk saat “terluka”, mereka memberi treatment sendiri.  Tak heran, mereka kadang menyimpan “lukanya” sendiri.

Seorang anak yang dekat kepada ayahnya pun, kadang tidak bercerita ke ayahnya mengenai lukanya. Pun mungkin sama dengan si ayah, yang mungkin tidak berbagi cerita juga ke anak. Seorang ayah dan anak ketika duduk bersama lebih banyak menghabiskan waktu untuk bengong. Mentok berceloteh tentang otomotif atau sepak bola. Sambil sesekali ditemani rokok surya. Kalau berbagi soal kehidupan sehari-hari, mungkin lebih sering menjadi angin lalu. Bahwa dengan tahu kegiatan masing-masing saja terasa cukup. Padahal, setiap hari yang dilalui, mungkin ada sesuatu yang melukai hati.

Meski begitu, mereka mencoba untuk tetap peduli. Seorang ayah akan mencoba untuk membantu pria kecilnya seremeh apapun pertolongan itu. Seorang ayah akan hadir untuk membantu pria kecilnya keluar dari kesusahan.

Dialog ayah ke Agus berwujud “Bisa, Gus?” menurutku menjadi puncak dari film itu sendiri. Pesan yang maknanya, seorang ayah, sekeras apapun tetap akan memberi bantuan. Kalimat semacam “Bisa?”, bagi laki-laki, adalah selemah-lemahnya bentuk perhatian.

Bahkan, ingatan terkecil pun tentang hal pertama yang dia pelajari menjadi core memory dalam diri seorang laki-laki. Bahwa, mungkin, keahlian yang dia miliki sekarang, adalah apa yang dulu ayah ajarkan kepadanya. Laki-laki itu berjuang sendirian, meninju congkaknya dunia, dengan apa yang diajarkan ayahnya. Berharap suatu saat ketika ditanya, “kamu bisa?” ia dengan mantap menjawab, “Aku bisa.”.

Yogyakarta, 24 April 2022

Yura Yunita. 2021. https://www.YouTube.com/watch?v=BAS8cCdsdpU diakses pada tanggal 24 April 2022.

Minggu, 26 Februari 2023

Pasca Baca: Ada Metode Jakarta di Seluruh Dunia Bagian 1

Hamba selalu suka gaya penceritaan yang mengalir seperti didongengi. Bagi hamba, gaya bercerita seperti itu membuat orang yang mudah jenuh dalam membaca buku sedikit terbantu.  Terlebih, jika gaya bercerita itu digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang berat lagi rumit.

Gaya bercerita itulah yang hamba temukan pada karya Vincent Bevins. Salah satu karyanya sedang hamba baca lewat buku berjudul “Metode Jakarta”. Buku ini sering riwa-riwi di timeline Twitter hamba sejak dari masa terbitnya. Narasi-narasi yang beredar bilang bahwa buku ini ingin menunjukkan peristiwa tahun 1965 ada campur tangan Amerika Serikat dan karena keberhasilan di jakartalah Amerika dapat menerapkan metode ini di tempat lain. Rasa penasaran saya akan isi dalam buku ini baru terjawab pekan ini.

Dari dulu, hamba selalu percaya kejadian tahun 1965 di indonesia terjadi karena campur tangan Amerika Serikat. Hamba punya alasan kenapa bisa begitu; pertama, perang dingin adalah masa dimana ideologi komunis dan non komunis bersaing melalui kekuatan 2 negara adidaya. Kedua, tidak mungkin 2 negara adidaya ini membiarkan ‘anak-anak didiknya’ bertebaran ke seluruh penjuru dunia tanpa ‘dirawat’ secara teratur. Ketiga, 2 ideologi yang berseberangan ini berebut pengaruh dimana saja sehingga bisa dimaklumi jika berbagai cara ditempuh untuk menumpas yang satu dan yang lain.

Asumsi-asumsi diatas dijawab oleh mas Vincent Bevins sedikit demi sedikit. Pada bagian pendahuluan, saya sudah dibuat manggut-manggut oleh mas Vincent. Betapa komunisme di belahan dunia manapun ternyata masih menjadi hantu yang menyeramkan bagi warga dunia. Sisa-sisa propaganda ala perang dingin masih ditemui oleh mas Vincent dari pengelanaannya selama menjadi jurnalis di berbagai dunia. Cap komunis digunakan dengan mudah untuk melabeli kelompok yang berseberangan. Masyarakat yang masih mengalami trauma dapat dengan mudah terpicu melalui pelabelan sembarangan tersebut. Celakanya, cara-cara tersebut masih efektif sampai sekarang.

Bagi hamba, warga indonesia yang jengah dicekoki narasi PKI di dunia maya, masih tidak mengerti dengan pasti mengapa komunisme begitu ditakuti dan dilarang. Mas vincent menjelaskannya secara perlahan dan teratur. Dalam buku “Metode Jakarta”, dia memulai dengan gambaran yang lebih besar; bagaimana kondisi dunia pasca perang dunia ke dua.  Dunia yang porak poranda akibat perang menimbulkan negara-negara di berbagai belahan dunia mulai membangun jati dirinya kembali. Amerika Serikat dan Uni Soviet yang saat itu tampil sebagai pemenang perang awalnya tidak memiliki kecurigaan satu sama lain, tapi bibit-bibit itu mulai muncul setelah satu persatu partai komunis di beberapa negara menjadi pucuk pimpinan tertinggi. Dari situlah Amerika Serikat mulai was-was.

Mas Vincent mengajak pembaca untuk memahami kekhawatiran Amerika Serikat setahap demi setahap. Dimulai dari Guatemala, lalu merembet ke negara-negara lain. Dari subbab-subbab buku itu strategi CIA dan orang-orang dalam pemerintahan Amerika Serikat dikuliti satu persatu. Terima kasih atas analisis yang mendalam dari mas Vincent Bevins, serasa mengikuti cerita-cerita suspense.

Pada bab yang lain, Vincent Bevins mengajak pembaca memahami bagaimana peran negara-negara lain saat itu. Di buku pelajaran sekolah, rakyat indonesia mengenal poros tengah yang tercipta melalui Konferensi Asia Afrika. Nah, poros tengah itu memegang peran kunci dalam pertarungan dua ideologi. Negara-negara seperti Mesir, India, dan Indonesia adalah contoh bagaimana mereka bisa berdaulat di tengah-tengah kedigdayaan Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di bagian ini mas Vincent mencoba untuk mengajak pembaca masuk lebih dalam keterlibatan Amerika Serikat di benua Asia, khususnya Asia Tenggara. Cara-cara yang digunakan di Guatemala nyatanya tidak mempan di Asia Tenggara sehingga Amerika Serikat mulai mencari metode lain.

Sayangnya, hamba belum selesai membaca buku ini. Hamba belum sampai ditahap mengapa disebut Metode Jakarta dan awal mula kelahirannya. Buku setebal 416 halaman ini menurut hamba menawarkan cara pandang baru bagi pembaca yang ingin mengetahui bagaimana komunisme di indonesia sebenarnya ditumpas. Cara buku ini mengawali dari sudut pandang yang lebih luas untuk kemudian mengerucut lebih kecil membantu pembaca untuk menelusuri kembali renik-renik ingatan yang selama ini mungkin luput dari buku pelajaran sekolah. Mas Vincent Bevins juga memberi penjelasan yang cukup menarik bagaimana kondisi negara dunia ketiga pasca perang memandang dirinya sendiri; bahwa nasionalisme yang digelorakan saat itu adalah nasionalisme anti kolonialisme dan imperialisme. Negara dunia ketiga adalah semangat baru dan memang pantas untuk menjadi poros tengah dunia saat itu.

Meski hamba belum membaca sampai selesai, secara keseluruhan buku ini cocok untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin tahu pasti perihal sejarah kelam Indonesia di tahun 1965-1966. Vincent Bevins siap mengajakmu berkeliling dunia dan melihat bagaimana Metode Jakarta benar-benar lahir dari kejadian di negeri kita tercinta dan terlampau efektif digunakan sampai sekarang.

Gonilan, 26 Februari 2023

oleh Sholahuddin Al Ayubi