Minggu, 28 Mei 2017

KENDARAAN PULANG



KENDARAAN PULANG
Oleh: Sholahuddin Al Ayubi

Pernahkah terbayang dibenak kita kematian seperti apa yang akan kita hadapi ? apa yang akan terjadi ketika kita ada di alam kubur ? seberapa ngerikah keadaan di padang mahsyar nanti ? dan balasan seperti apakah yang bakal kita terima ?

Mungkin, pertanyaan seperti itu jarang kita tanyakan pada diri kita. Jangankan bertanya, terlintas di pikiran barang sedetik pun tidak pernah.  Padahal yang namanya kematian bisa datang kapan saja. Malaikat izrail tidak terikat ketentuan dalam mencabut nyawa manusia, semua bakal mengalaminya,

Mungkin kita merasa santai santai saja dalam menjalani kehidupan didunia. Dengan beranggapan bahwa selama tidak meninggalkan perintahnya dalam hal ibadah dan tidak neko-neko, maka kita bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. 

            Manusia adalah makhluk ciptaan allah yang paling sempurna. Disebut sempurna karena mereka memiliki kelebihan yang tidak ditemukan di makhluk ciptaan allah yang lain. Kelebihan itu terletak pada bagian paling penting dari tubuh manusia yaitu akal.

Akal yang sejatinya merupakan daya pikir yang dengannya mampu melakukan suatu kemampuan untuk melihat cara memahami lingkungan menjadikan manusia sebagai sosok makhluk yang bijaksana. Segala sesuatu yang dihasilkan manusia tecipta melalui daya piker mereka yang luar biasa. 

Akan tetapi, makhluk paling sempurna ini sering lupa diri. Mereka terkadang tidak menggunakan akal mereka sebagaimana mestinya. Manusia sering lalai.  Manusia  sering lalai sebabnya ada dua. Dzolim atau jahil. Dzolim karena tau namun tidak mengerjakan, jahil karena mengerjakan tanpa mengetahui.

 Pentingnya bagi seseorang untuk mengetahui kelebihan dan kemampuan yang Allah berikan untuknya agar ia gunakan pada hal-hal yang dapat bermanfaat baginya. Karena Seperti diketahui manusia tidak memiliki tingkat kemampuan dan kelebihan yang sama. Kesempurnaan manusiawi tidak akan terhimpun pada diri siapapun kecuali pada para Nabi alaihimussalam. 

Akan tetapi apakah dengan hal itu mengharuskan kita berputus asa? Apakah boleh seorang muslim berputus harapan atas keadaan yang menimpanya dan saudaranya sesama muslim? Apakah boleh bagi pemuda Islam meninggalkan amal Islami dan memilih ber’uzlah?

Maka  Saya katakan, Tidak boleh bagi kaum muslimin menurut pandangan syar’i , khususnya kepada para pemuda yang dikuasai rasa pesimis dan apatis serta memilih uzlah. Padahal sudah jelas perintah Allah kepada kita untuk saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran (tawashau bil-haqq wa tawashau bis-shabri).

Bagaimana caranya ? simpel saja. Kenali kemungkaran dan bentuk-bentuknya kemudian jelaskan kepada seluruh umat manusia mengenai hakikat kemungkaran tersebut supaya mereka berhati-hati. Jangan sungkan untuk saling menasihati dan mengingatkan. Peringatkan dengan tegas jikalau telah melampaui batas.

            Bukankah Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry r.a.,yang  ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, bila tidak bisa maka dengan lisannya, bila tidak bisa maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman’.” (HR Muslim no. 449 dan Ibnu Majah no. 4013).


مَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرً۬ا يَرَهُ ۥ-- وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬ شَرًّ۬ا يَرَهُ ۥ 

“Maka Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. “ [Az Zalzalah ; 7-8]

Bila diamati secara mendalam, ayat ini menjelaskan kepada kita tentang bagaimana sebuah amalan yang terkadang kita anggap sepele bisa menjadi bekal kita utuk menyambut hari akhir kelak. Segala sesuatu yang kita kerjakan pasti mendapat balasan yang setimpal, apapun itu.

Mari mencontoh para sahabat Nabi Muhammad Shollaahu ‘alaihi wasallam. Penjagaan sunnah di tangan mereka benar-benar telah terlaksana dengan baik. Dan tugas orang-orang sesudahnya hanya menjaga lafazh lafazh nya, serta mencari tahu makna-maknanya, mengamalkan isinya, tentu ini yang dimaksud dengan menjaga secara maknawi. 

Generasi muslim saat ini adalah generasi manusia akhir zaman yang banyak bertanya dan mengeluh. Apakah perintah ini wajib atau mustahab? Apakah ini makruh atau haram? Mereka menerima perintah dan larangan Allah dalam keadaan hati yang lemah, sehingga hal itu menimbulkan pengaruh yang lemah pula kepada penghambaan mereka kepada Allah, serta kepatuhan dan ketundukan pun menjadi sulit. 

Kebanyakan orang jaman sekarang sering menggembor-gemborkan slogan “kembali pada sunnah” yang berarti mereka hanya mengambil ilmu-ilmu syar’inya saja. Padahal, ada hal yang lebih penting untuk dipelajari terlebih dahulu, yaitu adab dan akhlak rasulullah yang mulia. 

Coba ingat, orang yang memeluk Islam karena melihat akhlaq Rasulullah, lebih banyak jumlahnya, daripada memeluk Islam karena berperang dengan Rasulullah. Hal ini tentu disebabkan oleh kekaguman mereka akan akhlaq rasulullah yang begitu mulia. harusnya kita belajar adab terlebih dahulu daripada belajar ilmu, karena akhlaq diatas segalanya. Jika akhlaq seorang muslim bagus, insyaallah bisa terjamin pula keimanannya dan ibadahnya kepada allah dan akan mulai terlihat jati diri seorang muslim yang sesungguhnya.

Jadikanlah diri kita pribadi yang pemaaf dan tidak mudah melaknat maupun mencaci maki, seperti nabi yang tetap memaafkan kesalahan penduduk thaif walau beliau dilempar batu dan kotoran hewan.

Jadikanlah sikap suka berderma di jalan allah sebagai kebiasaan kita setiap hari. Entah itu dikala kita memiliki rezeki yang cukup atau disaat kita dilanda kesusahan. Percayalah Allah SWT akan mengganti lebih.

Jadikanlah anggota badan kita menjadi senjata utama untuk mencegah dari hal-hal keji. Pergunakanlah untuk mencari ridhonya. Yakinlah, segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggung jawaban. 

Jangan pernah mengeluh, tetaplah istiqomah dalam melaksanakan hal tersebut. Janganlah sekali-kali engkau bertanya kenapa harus seperti ini kenapa harus seperti itu? Bukankah sudah jelas, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Menutupi segala kekurangan kita, dan menjadi bekal tambahan untuk menghadap diri-Nya kelak suatu saat nanti. 

Karena kehidupan seorang mukmin hanya untuk Allah semata. Tidak ada ruang untuk menunda-nunda dan berlama-lama dalam sebuah urusan.  Islam tidak menyukai umatnya kosong dari melakukan aktivitas, baik duniawi maupun ukhrowi. 

Maka ingatlah kawan, apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Teruslah mencari ridho allah yang terbentang luas di ladang amal yang telah Allah SWT kepadamu di dunia ini. Dan hanya kepada tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Jangan sekalipun merasa pamrih.

Janganlah ragu untuk mencegah hal-hal mungkar. Hati bisa dimantapkan sembari berjalan. Orang yang tidak dapat menguasai hari ini, maka sudah barang tentu ia akan lebih lemah dan tidak bisa menguasai hari esok. Orang yang jujur itu malu kepada Allah jika keadaan mereka hari ini sama dengan kemarin.  Penundaan itu menyisakan masalah. Jadi tunggu kapan lagi untuk memulainya ?

***[ AL ]***

Minggu, 21 Mei 2017

MUDAH SAJA



Mudah Saja 

Syahdan, tepat dibulan ini aku lulus. Usai sudah perjalananku selama 3 tahun dalam balutan seragam putih-biru. Banyak pengalaman yang aku dapatkan. Terselip beberapa kisah istimewa diantara sekian banyak peristiwa yang aku alami selama berseragam SMA.

Secara keseluruhan, semua peristiwa yang aku alami itu memiliki makna tersendiri. Tapi kalau boleh aku memilih mana yang terbaik, maka dengan senang hati aku akan memilih pengalamanku ketika menjadi santri di salah satu perguruan muhammadiyah yang paling awal didirikan kh ahmad dahlan dan secara resmi diakui oleh pemerintah colonial belanda pada saat itu..

Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, itulah Nama resmi sekolahku. Karena rumit dan terlalu panjang, orang biasanya cukup menyebutnya dengan sebutan Mu'allimin atau Muin, atau M3in (baca : emgain). Terletak di Jl. Let. Jen. S. Parman No. 68, Ketanggungan, Wirobrajan, Yogyakarta 55012. Sekitar 3 km dari nol kilometer (pusat kota Yogyakarta).

Sekolah yang berdiri sejak tahun 1920 ini pada awalnya didirikan untuk mencetak guru sesuai dengan namanya, Muallimin. Tapi seiring perkembangan zaman, sekolah ini ditetapkan sebagai pusat pendidikan kader muhammadiyah. Madrasah Muallimin yang menganut konsep pondok pesantren dengan jenjang pedidikan 6 tahun mulai dari MTS sampai MA ini telah mencetak banyak kader muhammadiyah, sebagai contoh Buya Syafii Maarif.

Yah walaupun aku tidak berhasil menuntaskan masa baktiku di muallimin selama 6 tahun, aku mendapat banyak sekali pelajaran, bukan hanya pelajaran formal yang diajarkan di ruang kelas saja, melainkan pelajaran tentang kehidupan yang ditularkan melalui tutur kata maupun perilaku ustad-ustadku di madrasah. 

Ah, Aku jadi teringat sebuah kisah, bukan kisah sebenarnya, sebut saja sebuah inspirasi dari pondok pesantren yang aku banggakan ini. Ada salah seorang pegawai di madrasah yang sangat aku kagumi, pak arini, begitu biasanya warga sekolah memanggil beliau. Selama bersekolah di muallimin, aku tidak pernah tahu siapa nama lengkap beliau beserta alamatnya. Aku  lebih suka memanggil beliau dengan panggilan ustad. Walau bukan guru, tampilan luar beliau lebih menunjukkan beliau sebagai guru, guru yang sangat bersahaja.

Beliau bekerja sebagai kepala tata usaha di muallimin. Beliau ini dikenal sebagai orang yang santun lagi ramah. Beliau termasuk pegawai yang ulet dalam bekerja.

Ada satu kebiasaan beliau yang sudah dipahami betul oleh seluruh warga sekolah. Yaitu ketika jarum jam menunjukkan angka 9, maka sudah bisa dipastikan beliau keluar dari ruang kerjanya dan langsung menuju ke masjid untuk mendirikan sholat dhuha.

Nah disinilah letak keistimewaan ustad arini, ketika selesai sholat dan berdzikir, beliau tidak langsung beranjak dari masjid, akan tetapi beliau bangkit untuk membersihkan masjid. Yaa membersihkan masjid dengan tangan beliau sendiri. Sering beliau membungkukkan badan, berjongkok untuk mengambil remah-remah kecil yang terdapat di sajadah. Tidak sungkan membersihkan sarang laba-laba yang menggantung di sudut ruangan, dan tidak sungkan membersihkan tempat wudhu yang kotor. 

Keteladan itu tidak hanya berhenti sampai situ, saat kembali ke ruang kerjanya, ketika melihat ada daun maupun sampah plastic yang tercecer di lingkungan madrasah pun beliau tidak sungkan untuk memungutnya dengan tangan dan memasukkan nya ke dalam tempat sampah.   

Subhanallah, betapa mulia perbuatan yang beliau lakukan. Sering aku memergoki beliau melakukan itu semua tanpa terlihat malu di raut mukanya. Beliau tidak sungkan untuk melakukannya seorang diri, padahal beliau bisa menyuruh tenaga kebersihan sekolah untuk melakukannya. 

Semenjak melihat kebiasaan beliau tersebut, hatiku tergugah. Bahwa memang kita ini disebut sebagai khalifah fil ard, dianggap sebagai ciptaan allah yang paling sempurna, karena memang dengan akal yang diberikan allah inilah kita mampu menggerakkan anggota tubuh kita, mampu membedakan mana yang baik dan buruk, dan dengan itu semua kita bisa mencegah kemungkaran dan merawat bumi allah ini agar selalu lestari.

Hey kawan lihatlah sekitarmu, lihatlah sekelilingmu. Allah telah memberikan alam yang begitu indah kepada kita hingga orang-orang asing iri kepada pesona alam negeri kita.  Kepingan surga yang jatuh kedunia ini bisa menjadi daya tarik untuk mengangkat derajat bangsa kita dari berbagai sisi. Sayang, terkadang kita sampai lupa diri untuk merawatnya karena saking seringnya menceburkan diri kita dalam kesenangan. Padahal jika kita kehilangan itu, kita baru sadar bahwa itu hal yang sangat istimewa.

Ketika semua hal itu terjadi, mendadak semua orang kompak bersuara. Ribut sekali. Kompak mengucap koor senada atas kerusakan alam yang terjadi akibat sampah yang ditinggalkan manusia.

Cukuplah semua dimulai dari kita sendiri, asah kepekaan social kita. Cegah kemungkaran itudengan anggota gerak yang allah berikan kepada kita. Bukankah nabi pernah bersabda: “Barangsiapa di kalangan kamu melihat kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lidahnya dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.”
 
Sebenarnya, sudah sering kita dengar berbagai slogan tentang pentingnya menjaga kebersihan, Segala upaya sudah dilakukan agar keadaan kembali seperti yang diinginkan. Apa pun itu caranya, untuk mengubahnya. Entah itu Melalui poster, video kreatif, konser amal, dan berbagai kegiatan social telainnya. namun semua itu belum mampu mewujudkan mimpi untuk benar-benar terbebas dari sampah.

Rencana Indonesia bebas sampah tahun 2020 agaknya bukanlah omong kosong belaka. Program yang diinisiasi oleh kementerian lingkungan hidup pada awal februari kemarin mendapat respon yang positif dari seluruh masyarakat. Banyak LSM yang bersedia mengawal program tersebut dan semakin gencar pula kampanya akan penting menjaga lingkungan dari sampah. 

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai sadar dan ikut tergerak untuk membebaskan lingkungannya dari sampah. Tidak usahlah kita saling menyalahkan, apalagi menunggu pemerintah untuk segera menangani berbagai persoalan sampah di negeri ini seorang diri. Ayo kita gerakkah diri kita, menjadikan diri kita sebagai teladan. Biasakan diri kita untuk mulai membuang sampah pada tempatnya, memungut sampah yang tercecer dengan tangan kita sendiri, atau mengubahnya menjadi barang yang berharga. Ketika semua hal itu sudah menjadi kebiasaan kita, maka setiap orang yang melihat ke diri kita akan tersugesti dan ikut tergerak. 

Jadi, apa perlu alasan lagi untuk menunda berbuat baik ? Ayo Bergerak !!
---[Al]---

Sabtu, 18 Maret 2017

SEMOGA BERHASIL UGM!



Tahun ini, UGM sedang mengadakan hajatan besar. Hajatan 5 tahun sekali ini membuat lingkungan bulaksumur menjadi bergairah. Menggerakkan semua unsur untuk bergerak secara simultan. Kompleks balairung pun riuh dengan antusiasme khalayak yang berminat atau sekadar ingin tahu hajatan apa itu. Hajatan bernama Pemilrek itu pun makin besar gaungnya hingga sampai ke telingaku.

 


Pekan ini, 8 bakal calon rektor sudah berkumpul. Tersebutlah Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D.Eng., Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc., Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si., dr. Rr. Titi Savitri Prihatiningsih, M.Med.Ed., Ph.D., Dr. Drs. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M., dan Prof. Ir. Nizam, M.Sc., Ph.D. Persyaratan administrasi sudah terverifikasi. Mereka resmi menjadi petarung di ajang 5 tahunan kali ini. 

 


 Rektor bukanlah sosok yang sempurna. Dia yang mampu menebus semua persyaratan yang diajukan panitia kerja hanyalah manusia biasa. Tentu saja mereka memiliki kelemahan tersendiri dibalik keagungan yang mereka miliki melalui karya-karyanya untuk negeri. Rektor juga butuh seseorang yang mau dan peduli untuk membuat UGM tetap menjadi pelopor di segala aspek. 

 


Saya, Selama kurang lebih setengah tahun menjadi mahasiswa, sudah tahu bagaimana kehidupan mahasiswa di kampus ini, hiruk pikuk dunia perkuliahan, dan isu-isu yang beredar di sekitar kampus. Mudah rasanya untuk mengerti kenapa mahasiswa giat berdialektika di media social karena memang lingkungan UGM mendukung untuk hal itu terjadi dikarenakan banyak peristiwa yang terjadi tiap harinya.

 


Sangat sulit jika menguraikan bagian mana dari permasalahan di kampus ini yang menyebalkan. Setiap kebijakan yang diambil oleh jajaran rektorat membekas dalam ingatan tiap mahasiswa yang menganggap itu sebagai sesuatu yang tidak solutif dan tidak berpihak kepada rakyat. Termasuk maraknya pembangunan yang disokong oleh pemodal berkantong tebal yang dianggap mahasiswa sebagai bentuk lain dari kapitalisasi pendidikan. Entahlah, sudah berapa banyak diskusi dan rilis kajian yang dikeluarkan mahasiswa untuk menanggapi kebijakan jajaran pimpinan kampus. 


UGM juga bisa lupa, mengingat usianya yang kini menginjak kepala enam. Bisa jadi, UGM terlalu jemawa karena karya-karya yang dihasilkannya mampu menuntaskan permasalahan yang mendera negeri ini hingga lupa masalah internalnya belum teratasi dengan cemerlang. 

 


Semua orang memiliki harapan besar kepada para calon rektor agar benar-benar menjadi sosok Ratu Adil. Rektor baru diharapkan mampu memberi perubahan signifikan. Menjadi harapan semua orang, termasuk saya, kepada para calon rector, untuk benar-benar menuntaskan masalah kampus dengan solusi yang menyenangkan banyak pihak. UGM itu unik dan saya yakin ke 8 calon rektor itu tahu bagaimana harus menghadapinya melihat rekam jejak mereka yang berkecimpung di lingkungan kampus sudah sangat lama. Sang calon rektor tentu sudah paham betul wilayah permainannya.

 


Jika teman-teman termasuk orang yang nyinyir dengan keberanian sang calon rektor dalam mendaftarkan diri sebagai bakal calon rektor dan menganjurkan ia untuk focus menuntaskan permasalahan fakultas dan menunaikan janji yang pernah dia ucapkan selama menjabat di lingkungan structural apapun di kampus ini, maka keseriusan niatnya untuk menjadi rektor UGM menurut saya telah dibuktikan dengan kesediaannya mendaftarkan diri, membawa inovasi baru, yang diharapkan mampu membuat kampus perjuangan ini makin mengakar kuat menjulang tinggi. 
 


Satu hal lain yang menarik, yang saya temukan saat mencari-cari informasi seputar pemilrek di dunia maya akhir-akhir ini adalah bahwa mahasiswa UGM tetap mencurahkan keresahannya selama berkutat di kampus biru dengan tulisan-tulisan bermutu walau mereka tahu tidak memiliki andil dalam memilih rektor dan pengambilan kebijakan kampus. Artinya, tulisan yang ditulisnya bukan semata-mata untuk dirinya, namun juga untuk seluruh civitas akademika, dan Kampus UGM itu sendiri. Mereka adalah perlambang dari ketulusan dan kesungguhan akan arti penting kepedulian.



Hari ini, ketika tulisan ini telah selesai dibuat, mahasiswa-mahasiswa senior sibuk berkontemplasi dan menyusun draft pertanyaan untuk memperjelas maksud mereka yang berani menceburkan diri sebagai sosok penguasa kawah candradimuka bulaksumur. Hari ini pula, ke 8 calon rektor sedang harap-harap cemas menanti pertemuan dengan seluruh civitas akademika akhir maret nanti. Mari kita berdoa agar dimudahkan semua proses dan hasil terbaik sesuai usaha masing-masing pihak. Semoga berhasil UGM, selamat memulai lembaran baru bersama dia yang lama.


Bulaksumur, 15 Maret 2017


AlMubarockal


Mahasiswa Sastra